Empat Indikator Ketakwaan
Senin, 20 Januari 2014 - 07:08 WIB
Orang bertakwa tidak terjangkiti penyakit materialis. Yaitu, ketika memberi selalu mempertimbangkan untung/rugi
Ilustrasi
oleh:
Shalih Hasyim
Di antara sifat-sifat orang yang bertaqwa yang disebutkan Allah Subhanahu Wata’
ala terdapat dalam Al Quran Surat Adz-Dzariyat (51) : 15-19.
إنَ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ. ءَاخِذِينَ مَآءَاتَاهُمْ
رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذلِكَ مُحْسِنِينَ. كَانُوا قَلِيلاً
مِّنَ الَليْلِ مَايَهْجَعُونَ. وَبِاْلأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ.
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقُّ لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam
taman-taman (surga) dan di mata air-mata air. Sambil mengambil apa yang
diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sungguh, sebelum itu, mereka
ketika di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit
sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon
ampun (kepada Allah Subhanahu Wata’ala) Dan pada harta-harta mereka ada
hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang menjaga
dirinya dari meminta-minta.”
Merujuk kalam Ilahi di
atas
dapat kita ambil pelajaran tentang kecerdasan majemuk yang melekat
pada diri orang yang bertaqwa, yaitu : Kecerdasan Sosial, Kecerdasan
Ruhaniah, Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Finansial.
Pertama:
Kecerdasan Sosial
Ditandai dengan selalu berbuat baik kepada orang lain karena ia yakin
kebaikan itu kembali kepada dirinya sendiri, tanpa salah alamat.
إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذلِكَ مُحْسِنِينَ.
“Sungguh, sebelum itu, mereka ketika di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik.”
Kebaikan seseorang tidak semata-mata diukur dari
hablun minallah, rajinnya ibadah ritual, tetapi harus diimbangi dengan
hablun minannas.
Shalat dimulai dengan takbir, dan diakhiri dengan salam mengajarkan
kepada kita untuk menjaga keseimbangan dan kesinambungan hubungan
vertikal dan
horizontal.
Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak memberikan manfaat
kepada orang lain (al Hadits). Manusia yang paling baik adalah manusia
yang bergaul (lebur) dengan manusia lain dan sabar atas gangguan mereka
(al Hadits). Orang yang baik adalah yang sholih ritual dan sholih
sosial.
Sholihun linafsihi wa sholihun lighoirih (sholih untuk dirinya dan sholih untuk orang lain).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu,
sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat
kemenangan.” (QS. Al Hajj (22) : 77)
Spirit untuk berbuat baik tidak akan pernah padam, hingga ajal
menjemput. Karena ia yakin pasti mendapat balasan yang lebih baik dari
Allah Subhanahu Wata’ala. Dan balasan itu akan dia panen baik secara
kredit ataupun kontan. Secara langsung maupun tidak langsung. Di dunia ini dan di akhirat kelak.
Ada dua kunci
untuk sukses bergaul (bermuamalah) – interaksi yang mengandung
hitung-hitungan materi – dan bermu’asyarah – interaksi yang menonjolkan
ruhani - dengan orang lain.
Pertama, Salamatush Shadr (dada selamat/steril dari penyakit serakah, sombong dan dengki).
Kedua,
Al-Itsar
(mengutamakan/mendahulukan orang lain dalam urusan dunia). Dua rumus
itulah yang dapat menyederhanakan perbedaan dan menonjolkan umat Islam
pertama di Madinah. Antara kaum Muhajirin (penduduk Makah yang hijrah)
dan Anshar (penduduk Madinah yang mukim, siap menolong saudaranya yang
berhijrah).
Kedua: Kecerdasan Ruhaniah
Ia giat dan
mudawamah (terus-menerus) dan istiqomah (konsisten) melaksanakan
qiyamullail atau shalat malam.
انُوا قَلِيلاً مِّنَ الَّيْلِ مَايَهْجَعُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.”
Artinya, orang yang bertaqwa adalah orang yang rajin shalat malam atau shalat
tahajjud
(melepaskan selimut) untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu
Wata’ala . Itulah sebabnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam
menginformasikan kepada shahabatnya bahwa bangun malam adalah prilaku
dan kebiasaan rutin (kultur) orang-orang shalih dahulu, sebagai
taqarrub
(mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu Wata’ala, membentengi diri
dari perbuatan dosa, menghapuskan kesalahan dan dapat menghilangkan
penyakit dalam tubuh.
Dengan shalat lail kita bermuhasabah dan menyadari bahwa betapa
banyak persoalan kehidupan ini yang tidak dapat dipecahkan hanya dengan
menonjolkan ikhtiar lahiriyah dan kecerdasan intelektual. Kita menyadari
keterbatasan kapasitas diri kita. Dan kita merendah di hadapan Allah
Subhanahu Wata’ala yang Maha Kuat dan Maha Perkasa. Dan Maha Memiliki
segala yang diperlukan hamba-Nya.
Subhanallah (Maha Suci Allah), bukankah kita seringkali
tidak berhasil mengendalikan panca indra kita dari perbuatan maksiat.
Kita lemah menjaga mulut, pikiran, hati, pendengaran, untuk selalu
terkontrol.
Al Hamdulillah (Segala puji hanya milik Allah).
Alangkah banyak karunia yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala baik nikmat lahir ataupun nikmat batin.
Allahu Akbar (Allah
Maha Besar). Betapa kecil ilmu, harta, kekuasaan, dan pengaruh kita.
Seringkali apa yang kita miliki tadi tidak berdaya menyelamatkan kita
dari mara bahaya.
Laa haula wa laa quwwata illa billah (tidak
ada daya dan kekuatan kecuali Allah). Betapa tidak berdayanya diri kita.
Menahan ngantuk saja tidak mampu. Mencukur rambut saja tidak dapat
mandiri.
Laa Ilaaha Illallah (Tidak ada yang patut disembah
dan diibadahi kecuali Allah). Dengan memperbanyak kalimat tasbih,
hamdalah, takbir, dan tahlil, mudah-mudahan keimanan menghunjam di dalam
hati kita. Dengan media shalat malam mendidik seluruh anggota tubuh
kita untuk tunduk kepada Allah Subhanahu Wata’ala secara serentak.
Ketiga: Kecerdasan Emosional
Ia selalu
muhasabah dengan memohon ampun (beristighfar)
kepada Allah Subhanahu Wata’ala di waktu sahur (di penghujung malam).
Orang yang cerdas adalah orang yang selalu intropeksi diri dan beramal
untuk kehidupan sesudah mati. Dengan banyak muhasabah, hisab di akhirat
lebih ringan. Karena ia selalu minta ditutupi, dihapus kelemahannya oleh
Allah Subhanahu Wata’ala .
Semakin banyak mengucapkan kalimat istighfar sepatutnya makin banyak
kelemahannya yang dihapus. Sehingga yang menonjol adalah kebaikannya
(sisi positif).
وَبِاْلأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Mereka beristighfar di waktu sahur. Waktu sahur ini memiliki
keutamaan dan kemuliaan karena ia termasuk sepertiga malam terakhir.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah bersabda :
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى
السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ
مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ
يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ رواه البخاري( كتاب التوحيد/6940) ومسلم (
صلاة المسافرين/1262)
“Allah Subhanahu Wata’ala setiap malam turun ke langit dunia
ketika sepertiga malam yang terakhir masih tersisa. Kemudian Dia
berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan. Siapa yang
meminta kepada-Ku akan Aku beri. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku
akan Aku ampuni.”
Orang yang memiliki kecerdasan emosional hatinya mudah empati melihat
penderitaan orang lain, dan mudah menerima kebenaran orang lain. Maka
ia berjiwa besar. Berjiwa permadani. Dapat menampung semua karakter
manusia. Dan jauh dari sikap kerdil. Berbagai penelitian mutakhir
menunjukkan bahwa kecerdasan emosional penentu keberhasil hidup
seseorang.
Keempat: Kecerdasan Finansial
Ia senang berbagi dan memberi orang-orang yang membutuhkannya.
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Dan dalam hartanya ada hak bagi peminta-minta, dan orang miskin yang menahan diri dari meminta”.
Maksudnya, ia gemar bersedekah dan memberikan sebagian rizki yang
diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepadanya untuk orang lain yang
membutuhkan. Ia yakin dengan memberi sesungguhnya akan
mendapatkan/memperoleh. Allah Subhanahu Wata’ala akan menggantinya dan
melipatgandakannya. Orang inilah yang bermental kaya. Sebaliknya, orang
yang simpanannya banyak, tetapi merasa kurang terus, sehingga ia
dihinggapi penyakit
thoma’ (rakus), sesungguhnya ia bermental
miskin. Semakin menumpuk kekayaan yang dimilikinya bagaikan minum air
laut, semakin diminum semakin haus.
Orang bertakwa tidak terjangkiti penyakit materialis. Yaitu, ketika
memberi selalu mempertimbangkan untung/rugi. Ada maksud tersembunyi
dibalik pemberiannya itu. Ia khawatir jika ia memberi, jatuh miskin.
Takut hartanya berkurang. Ia tidak percaya bahwa Allah Subhanahu
Wata’ala yang melapangkan dan menyempitkan rezeki seseorang.
Demikian diantara sifat orang bertaqwa yang dijanjikan Allah
Subhanahu Wata’ala sebagai balasan sesuai dengan apa yang telah
dikerjakan selama mereka hidup di dunia. Kenikmatan yang tidak terlihat
oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah
terlintas oleh manusia.
Semoga kita dan keluarga kita dimudahkan oleh Allah Subhanahu
Wata’ala untuk mengikuti jejak Ahlul Jannah, penghuni surga. Amin ya
Rabbal ‘Alamin.*
Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah