bisnis

Wednesday, 22 January 2014

SEJARAH

Mencari Asal-Usul Maulid Nabi (1)

Shalahuddin al-Ayyubi dan Maulid Nabi

Shalahuddin al-Ayyubi dan Maulid Nabi
ilustrasi

Oleh: Alwi Alatas
SECARA bahasa maulid Nabi bermakna waktu kelahiran. atau tempat kelahiran, Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Secara istilah, maulid Nabi biasanya dimaknai sebagai perayaan yang berkaitan dengan waktu kelahiran Nabi Muhammad setiap tanggal 12 Rabiul Awwal. Perayaan maulid telah menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat Muslim di dunia sekarang ini. Bahkan tanggal 12 Rabiul Awwal merupakan hari libur di banyak negeri Muslim. Kapankan sebenarnya perayaan maulid pertama kali muncul dalam sejarah Islam?
Pada masa-masa sebelum ini kita sering mendengar bahwa peringatan maulid muncul pertama kali pada zaman Shalahuddin al-Ayyubi (w. 1193).  Shalahuddin dikatakan mengadakan kompetisi atau anjuran untuk melaksanakan perayaan maulid demi membangkitkan semangat jihad kaum Muslimin pada masa itu dalam menghadapi tentara salib. Namun sejauh yang penulis ketahui, kisah ini sama sekali tidak memiliki rujukan.
Tidak ada satu pun penulis sejarah Shalahuddin dan Perang Salib yang hidup sejaman dengannya yang menyebutkan tentang hal ini. Jika Shalahuddin memang menjadikan maulid sebagai bagian dari
perjuangannya, tentu buku-buku sejarah pada Secara bahasa maulid Nabi bermakna waktu kelahiran. atau tempat kelahiran, Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Secara istilah, maulid Nabi biasanya dimaknai sebagai perayaan yang berkaitan dengan waktu kelahiran Nabi Muhammad setiap tanggal 12 Rabiul Awwal. Perayaan maulid telah menjadi bagian dari kehidupan masa itu akan menyebutkan tentang hal itu walaupun sedikit.
Syair Salib
Selain pendapat di atas, ada juga sebagian kaum Muslimin yang menentang maulid, begitu pula beberapa sejarawan Barat, yang mengatakan bahwa perayaan ini bersumber dari Dinasti Fatimiyah (909-1171) yang berpaham Syiah Ismailiyah.
Dinasti inilah yang pertama kali mengadakan perayaan maulid Nabi, serta maulid Ali dan beberapa maulid keluarga Nabi lainnya. Bahkan ada artikel yang begitu bersemangat mengkritik maulid menyebutkan bahwa maulid “berasal dari kaum bathiniyyah (maksudnya Dinasti Fatimiyah, pen.) yang memiliki dasar-dasar akidah Majusi dan Yahudi yang menghidupkan syiar-syiar kaum salib.”
Terlepas dari perbedaan dan permusuhannya dengan Ahlu Sunnah, Dinasti Fatimiyah pada masa itu juga berperang menghadapi kaum salib. Jadi, menyebut dinasti Fatimiyah atau perayaan maulid sebagai “menghidupkan syiar-syiar kaum Salib” merupakan tuduhan yang terlalu jauh dan mengada-ada.
Beberapa buku sejarah memang menyebutkan bahwa Dinasti Fatimiyah mengadakan perayaan maulid Nabi. Perlu diketahui sebelumnya bahwa pemerintahan Fatimiyah berdiri pada tahun 909 M di Tunisia, memindahkan pusat kekuasaannya ke Kairo, Mesir, enam dekade kemudian, dan runtuh pada tahun 1171, dua tahun setelah masuknya Shalahuddin ke Mesir. Adanya perayaan maulid oleh Dinasti Fatimiyah disebutkan antara lain oleh dua orang sejarawan dan ilmuwan pada masa Dinasti Mamluk, beberapa abad setelah masa hidup Shalahuddin dan terjadinya Perang Salib. Kedua sejarawan yang sama-sama memiliki nama Ahmad bin Ali itu dalah al-Qalqashandi (w. 1418) dan al-Makrizi (w. 1442). Menurut Nico Kaptein dalam disertasinya yang dibukukan, Muhammad’s Birthday Festival (1193: 7-19), kedua sejarawan ini merujuk pada tulisan para
sejarawan sebelumnya yang mengalami jaman Fatimiyah, terutama Ibn Ma’mun (w. 1192) dan Ibn al-Tuwayr (w. 1220).
Al-Qalqashandi menyebutkan tentang perayaan maulid Nabi oleh Dinasti Fatimiyah secara ringkas dalam kitab Subh al-A’sya jilid III (1914: 502-3). Perayaan itu dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awwal, dipimpin oleh Khalifah Fatimiyah dan dihadiri oleh para pembesar kerajaan seperti Qadhi al-Qudhat, Da’i al-Du’at, dan para pembesar kota Kairo dan Mesir. Hidangan disediakan untuk yang hadir dan jalur ke istana ditutup dari orang-orang yang lewat di dekat tempat itu. Setelah semua berkumpul, orang kepercayaan khalifah memberi tanda dan acara pun dimulai dengan khutbah dari penceramah – dalam sumber lain disebutkan bahwa acara dibuka dengan pembacaan al-Qur’an dan diikuti dengan khutbah oleh tiga penceramah berturut-turut (Kaptein, 1993: 13-5). Setelah khutbah selesai, acara diakhiri dan orang-orang pun kembali ke  rumah masing-masing. Hal yang sama juga berlaku pada perayaan maulid Ali bin Abi Thalib ra, maulid Fatimah, maulid Hasan dan Hussain ra, dan maulid khalifah sendiri.
Sebagaimana disebutkan dalam Encyclopaedia of Islam jilid 6 (1991: 895) dan juga buku Kaptein (1993: 9-10), al-Maqrizi (saya tidak merujuk langsung dari kitab beliau) juga menjelaskan hal yang kurang lebih sama. Salah satu perayaan maulid itu diadakan pada tahun 517 H (1123 M). Sebelum itu tentunya sudah ada perayaan maulid juga, tetapi buku-buku sejarah tidak menyebutkan sejak tahun berapa perayaan ini mulai dilakukan.
Kaptein (1993: 28-9) berpendapat perayaan maulid yang berlaku di dunia Sunni merupakan kelanjutan dari perayaan maulid Fatimiyah ini. Ia juga percaya bahwa saat terjadi pergantian kekuasaan dari Dinasti Fatimiyah kepada Shalahuddin, perayaan maulid Nabi tetap berlangsung di tengah masyarakat Mesir. Hanya maulid selain maulid Nabi yang dihapuskan oleh pemerintahan Shalahuddin, sementara maulid Nabi tetap diizinkan berjalan. Namun pendapat Kaptein ini lebih bersifat dugaan dan penafsiran atas teks yang tidak sepenuhnya bisa dijadikan pegangan.
Ada beberapa alasan untuk memilih pendapat yang sebaliknya. Pertama, sebagaimana digambarkan dalam sumber-sumber yang ada, maulid Fatimiyah ini merupakan maulid yang bersifat elit. Ia dilaksanakan oleh istana
dan dihadiri oleh pembesar kerajaan dan tokoh-tokoh masyarakat. Tidak ada informasi yang menyebutkan bahwa perayaan ini bersifat populer dan dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat Mesir ketika itu, baik Sunni maupun Syiah. Perayaan maulid Fatimiyah ini sempat dihentikan oleh wazir Fatimiyah yang bernama al-Afdal yang memerintah pada tahun 1094-1122. Belakangan khalifah mengupayakannya lagi atas usulan beberapa pembesar di sekitarnya (Kaptein, 1993: 24-5). Kisah tentang konflik ini hanya berkisar di sekitar istana. Tidak ada informasi tentang apa yang terjadi di masyarakat Mesir terkait pelarangan tersebut.
Kedua, sejauh ini kita juga tidak menemukan sumber-sumber sejarah yang ada menceritakan tradisi perayaan maulid di tengah masyarakat Syiah Ismailiyah pada masa itu. Masyarakat Syiah ketika itu bukan hanya tinggal di Mesir, tetapi juga di Suriah, Irak, dan Yaman (lihat misalnya The Chronicle of Ibn al-Athir/ Tarikh Ibn al-Athir). Ketiga, dalam perjalanan hajinya ke Makkah melalui Mesir pada tahun 1183, Ibn Jubair (2001: 31-68) sama sekali tidak menyebutkan adanya kebiasaan maulid di Mesir.
Saat itu sudah dua belas tahun sejak runtuhnya Dinasti Fatimiyah dan Mesir telah diperintah oleh Shalahuddin. Pada bulan Rabiul Awwal tahun itu, Ibn Jubair (w. 1217) masih belum menyeberang dari Mesir menuju Jeddah. Jika kebiasaan maulid di Mesir merupakan kebiasaan yang populer di tengah masyarakat sejak masa Fatimiyah, dan kemudian bersambung pada masa Shalahuddin, rasanya kecil kemungkinan hal ini akan terlewat dari pengamatan Ibn Jubair untuk kemudian ia tuangkan di dalam buku perjalanannya (The Travels of Ibn Jubayr/ Rihla). Sementara, Ibn Jubair jelas-jelas menyebutkan adanya peringatan maulid di Makkah sebagaimana akan disebutkan nanti.
Penulis kandidat doktor bidang sejarah di IIUM Malaysia

LENTERA HIDUP

Rasulullah Pun Tawarkan Bantuan kepada Pembantu

Dari tutur kata Rasululullah Shallallahu Alaihi Wasallam terlihat bahwa beliau tidak memandang pembantu sebagai warga kelas 2.
Rasulullah Pun Tawarkan Bantuan kepada Pembantu
كَانَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم مِمَّا يَقُوْلُ لِلْخَادِمِ: أَلَكَ حَاجَةٌ؟ -أحمد
Artinya: Dari apa-apa (yang banyak) dikatakan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kepada pembantu beliau,”Apakah engkau memerlukan sesuatu?” (Riwayat Ahmad, dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthi)
Dalam periwayatan yang lengkap disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menawarkan bantuan kepada pembantu beliau, hingga suatu saat sang pembantu menjawab,”Saya memerlukan agar Anda memberi syafaat untuk saya di hari kiamat.” Dan Rasulullah pun mengiyakan, namun meminta kepada pembantu beliau itu untuk memperbanyak sujud.
Ibnu Arabi menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan kesempurnaan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam segala persoalan (Faidh Al Qadir, 5/229). Bagaimana tidak, perkataan yang biasa disampaikan oleh pembantu kepada majikan seperti,”Ada yang perlu saya lakukan?”, “Ada yang bisa saya bantu?” atau ungkapan lainnya malah disampaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada pembantu beliau.
Nah, jika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam amat memuliakan pembantu dan tidak merendahkan mereka, bagaimana dengan sikap kita terhadap pembantu?

Empat Indikator Ketakwaan

Empat Indikator Ketakwaan

Orang bertakwa tidak terjangkiti penyakit materialis. Yaitu, ketika memberi selalu mempertimbangkan untung/rugi
Empat Indikator Ketakwaan
Ilustrasi

Terkait

oleh: Shalih Hasyim
Di antara sifat-sifat orang yang bertaqwa yang disebutkan Allah Subhanahu Wata’ala terdapat dalam Al Quran Surat Adz-Dzariyat  (51) : 15-19.
إنَ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ. ءَاخِذِينَ مَآءَاتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذلِكَ مُحْسِنِينَ. كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ الَليْلِ مَايَهْجَعُونَ. وَبِاْلأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ. وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقُّ لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air. Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sungguh, sebelum itu, mereka ketika di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah Subhanahu Wata’ala) Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang menjaga dirinya dari meminta-minta.”
Merujuk kalam Ilahi di atas dapat kita ambil pelajaran tentang kecerdasan majemuk  yang melekat pada diri orang yang  bertaqwa, yaitu : Kecerdasan Sosial, Kecerdasan Ruhaniah, Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Finansial.
Pertama: Kecerdasan Sosial
Ditandai dengan selalu berbuat baik kepada orang lain karena ia yakin kebaikan itu kembali kepada dirinya sendiri, tanpa salah alamat.
إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذلِكَ مُحْسِنِينَ.
“Sungguh, sebelum itu, mereka ketika di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik.”
Kebaikan seseorang tidak semata-mata diukur dari hablun minallah, rajinnya ibadah ritual, tetapi harus diimbangi dengan hablun minannas. Shalat dimulai dengan takbir, dan diakhiri dengan salam mengajarkan kepada kita untuk menjaga keseimbangan dan kesinambungan hubungan vertikal dan horizontal. Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain (al Hadits). Manusia yang paling baik adalah manusia yang bergaul (lebur) dengan manusia lain dan sabar atas gangguan mereka (al Hadits). Orang yang baik adalah yang sholih ritual dan sholih sosial. Sholihun linafsihi wa sholihun lighoirih (sholih untuk dirinya dan sholih untuk orang lain).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al Hajj (22) : 77)
Spirit untuk berbuat baik tidak akan pernah padam, hingga ajal menjemput. Karena ia yakin pasti mendapat balasan yang lebih baik dari Allah Subhanahu Wata’ala. Dan balasan itu akan dia panen baik secara kredit ataupun kontan. Secara langsung maupun tidak langsung. Di dunia ini dan di akhirat kelak.
Ada dua kunci untuk sukses bergaul (bermuamalah) – interaksi yang mengandung hitung-hitungan materi – dan bermu’asyarah – interaksi yang menonjolkan ruhani -  dengan orang lain. Pertama, Salamatush Shadr (dada selamat/steril dari penyakit serakah, sombong dan dengki). Kedua, Al-Itsar (mengutamakan/mendahulukan orang lain dalam urusan dunia). Dua rumus itulah yang dapat menyederhanakan perbedaan dan menonjolkan umat Islam pertama di Madinah. Antara kaum Muhajirin (penduduk Makah yang hijrah) dan Anshar (penduduk Madinah yang mukim, siap menolong saudaranya yang berhijrah).
Kedua: Kecerdasan Ruhaniah
Ia giat dan mudawamah (terus-menerus)  dan istiqomah (konsisten) melaksanakan qiyamullail atau shalat malam.
انُوا قَلِيلاً مِّنَ الَّيْلِ مَايَهْجَعُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.”
Artinya, orang yang bertaqwa adalah orang yang rajin shalat malam atau shalat tahajjud (melepaskan selimut) untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala . Itulah sebabnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam  menginformasikan kepada shahabatnya bahwa bangun malam adalah prilaku dan kebiasaan rutin (kultur) orang-orang shalih dahulu, sebagai taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu Wata’ala, membentengi diri dari perbuatan dosa, menghapuskan kesalahan dan dapat menghilangkan penyakit dalam tubuh.
Dengan shalat lail kita bermuhasabah dan menyadari bahwa betapa banyak persoalan kehidupan ini yang tidak dapat dipecahkan hanya dengan menonjolkan ikhtiar lahiriyah dan kecerdasan intelektual. Kita menyadari keterbatasan kapasitas diri kita.  Dan kita merendah di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala  yang Maha Kuat dan Maha Perkasa. Dan Maha Memiliki segala yang diperlukan hamba-Nya.
Subhanallah (Maha Suci Allah), bukankah kita seringkali tidak berhasil mengendalikan panca indra kita dari perbuatan maksiat. Kita lemah menjaga mulut, pikiran, hati, pendengaran, untuk selalu terkontrol. Al Hamdulillah (Segala puji hanya milik Allah).
Alangkah banyak karunia yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala  baik nikmat lahir ataupun nikmat batin. Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Betapa kecil ilmu, harta, kekuasaan, dan pengaruh kita. Seringkali apa yang kita miliki tadi tidak berdaya menyelamatkan kita dari mara bahaya. Laa haula wa laa quwwata illa billah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali Allah). Betapa tidak berdayanya diri kita. Menahan ngantuk saja tidak mampu. Mencukur rambut saja tidak dapat mandiri.  Laa Ilaaha Illallah (Tidak ada yang patut disembah dan diibadahi kecuali Allah). Dengan memperbanyak kalimat tasbih, hamdalah, takbir, dan tahlil, mudah-mudahan keimanan menghunjam di dalam hati kita. Dengan media shalat malam mendidik seluruh anggota tubuh kita untuk tunduk kepada Allah Subhanahu Wata’ala  secara serentak.
Ketiga: Kecerdasan Emosional
Ia selalu muhasabah dengan memohon ampun (beristighfar) kepada Allah Subhanahu Wata’ala di waktu sahur (di penghujung malam).  Orang yang cerdas adalah orang yang selalu intropeksi diri dan beramal untuk kehidupan sesudah mati. Dengan banyak muhasabah, hisab di akhirat lebih ringan. Karena ia selalu minta ditutupi, dihapus kelemahannya oleh Allah Subhanahu Wata’ala .
Semakin banyak mengucapkan kalimat istighfar sepatutnya makin banyak kelemahannya yang dihapus. Sehingga yang menonjol adalah kebaikannya (sisi positif).
وَبِاْلأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Mereka beristighfar di waktu sahur. Waktu sahur ini memiliki keutamaan dan kemuliaan karena ia termasuk sepertiga malam terakhir.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam   pernah bersabda :
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ رواه البخاري( كتاب التوحيد/6940) ومسلم ( صلاة المسافرين/1262)
“Allah Subhanahu Wata’ala setiap malam turun ke langit dunia ketika sepertiga malam yang terakhir masih tersisa. Kemudian Dia berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Aku ampuni.”
Orang yang memiliki kecerdasan emosional hatinya mudah empati melihat penderitaan orang lain, dan mudah menerima kebenaran orang lain. Maka ia berjiwa besar.  Berjiwa permadani. Dapat menampung semua karakter manusia. Dan jauh dari sikap kerdil. Berbagai penelitian mutakhir menunjukkan bahwa kecerdasan emosional penentu keberhasil hidup seseorang.
Keempat: Kecerdasan Finansial
Ia senang berbagi dan memberi orang-orang yang membutuhkannya.
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Dan dalam hartanya ada hak bagi peminta-minta, dan orang miskin yang menahan diri dari meminta”.
Maksudnya, ia gemar bersedekah dan memberikan sebagian rizki yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepadanya untuk orang lain yang membutuhkan. Ia yakin dengan memberi sesungguhnya akan mendapatkan/memperoleh. Allah Subhanahu Wata’ala  akan menggantinya dan melipatgandakannya. Orang inilah yang bermental kaya. Sebaliknya, orang yang simpanannya banyak, tetapi merasa kurang terus, sehingga ia dihinggapi penyakit thoma’ (rakus), sesungguhnya ia bermental miskin. Semakin menumpuk kekayaan yang dimilikinya bagaikan minum air laut, semakin diminum semakin haus.
Orang bertakwa tidak terjangkiti penyakit materialis. Yaitu, ketika memberi selalu mempertimbangkan untung/rugi. Ada maksud tersembunyi dibalik pemberiannya itu. Ia khawatir jika ia memberi, jatuh miskin. Takut hartanya berkurang. Ia tidak percaya bahwa Allah Subhanahu Wata’ala  yang melapangkan dan menyempitkan rezeki seseorang.
Demikian diantara sifat orang bertaqwa yang dijanjikan Allah Subhanahu Wata’ala  sebagai balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakan selama mereka hidup di dunia. Kenikmatan yang tidak terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh manusia.
Semoga kita dan keluarga kita dimudahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala  untuk mengikuti jejak Ahlul Jannah, penghuni surga. Amin ya Rabbal ‘Alamin.*
Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Monday, 20 January 2014

Rekontruksi Terminologi Islam Sesuai al-Quran Non Liberal

Rekontruksi Terminologi Islam Sesuai al-Quran Non Liberal

Rekontruksi Terminologi Islam Sesuai al-Quran Non Liberal




Oleh: Yan S. Prasetiadi
KABAR terbaru menyebutkan dari jumlah penduduk dunia yang berjumlah seitar 7.021.836.029,  22.43% adalah pemeluk Islam. Ini menunjukkan bahwa Islam menjadi agama tercepat yang berkembang di dunia.
Menulis perkembangan ini, sesungguhnya  Islam merupakan agama kunci di era modern kini.  Namun, jika ditanya apa itu Islam? Maka tertentu beragam jawaban mungkin bisa terlontar.
Sebelum dijawab, tentunya perlu di perhatikan, definisi adalah gambaran sejati sebuah realitas. Definisi itu mesti menyeluruh meliputi semua aspek yang dideskripsikan, dan memproteksi sifat-sifat di luar substansi yang dibahas. Jika hal ini di abaikan definisi akan menjadi liberal, bebas seenak hawa nafsu dan kepentingan.
Lalu sebetulnya apa itu Islam? Jawabnya, Islam adalah agama (ad-dîn) yang diturunkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya. (Dr. Samih Athif az-Zain, Al-Islâm wa Aidiyûlûjiyyah al-Insân, 1982: hal. 66)
Definisi ini mengandung tiga hal penting;
Pertama, Islam sebagai ‘agama yang diturunkan Allah bermakna, semua agama yang bukan berasal dari Allah, tentu bukanlah agama Islam. Seperti ajaran agama buatan manusia, semisal Hindu, Budha, Konghucu, Sintoisme dll. Jadi Islam adalah agama yang diturunkan hanya oleh Allah Subhanahu Wata’ala.
Kedua, Islam diturunkan ‘kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam’ artinya, segala agama yang disampaikan kepada selain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam bukanlah agama Islam. Baik yang diturunkan kepada Nabi Isa as, Musa as, atau Nabi dan Rasul yang lain, semuanya bukanlah agama Islam, termasuk agama Kristen, Yahudi dll. Jadi Islam itu merupakan agama yang diturunkan hanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, bukan kepada yang lain.
Ketiga, yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya, merupakan deskripsi komprehensif tentang ajaran Islam, yang meliputi seluruh aspek; mulai dari urusan dunia sampai akhirat; baik yang menyangkut dosa, pahala, surga, neraka; maupun akidah, ibadah, ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan dan sebagainya.
Hal tersebut berdasarkan penelaahan teradap al-Quran sebagai berikut:
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imrân [3]: 19).
Ayat ini menjelaskan Islam sebagai agama samawi yang diturunkan Allah kepada manusia. Namun ketika Allah menjelaskan sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam, berarti agama lain, yang pernah diturunkan Allah tidak lagi diakui setelah Islam turun.
Makna itu diperkuat nash:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
“Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agama kamu, dan telah Aku cukupkan untuk kamu nikmat-Ku, serta Aku ridhai Islam sebagai agama kamu.” (QS. Al-Mâidah [5]: 3).
Ayat ini menyatakan hanya Islam satu-satunya agama yang diridhai Allah subhanahu wata’ala, sementara yang lain tidak. Ini bisa dimengerti dari mafhûm mukhâlafah (pengertian terbalik) lafadz: Aku ridhai, yang merupakan kata kerja sifat: “Aku ridhai Islam sebagai agama kamu”, yang bermakna: “Aku tidak meridhai selain Islam sebagai agama kamu.”
Pengertian itu kembali diperkuat nash berikut:
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Siapa saja yang mencari selain Islam sebagai agama, sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imrân [3]: 85).
Ayat ini jelas menyebut kata: Islam sebagai Dîn (agama), sedangkan kata yang sama: Islam tidak pernah digunakan sekali pun oleh al-Quran menyebut nama agama-agama Nabi sebelumnya. Kalaupun disebutkan juga dengan ungkapan yang tidak jelas.
Contoh:
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ
“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Muhammad) sama seperti yang telah Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya. “ (QS. An-Nisâ’ [4]: 163).
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) untuk mengikuti ‘millah’ Ibrahim yang lurus.” (QS. An-Nahl [16]: 123).
Surat (An-Nisa: 163) di atas adalah ayat bermakna umum, ungkapan: ‘Kami telah mewahyukan’, bisa meliputi akidah (tauhid) dan syariah (sistem); juga bisa meliputi salah satu ataupun keduanya sekaligus. Begitupun ungkapan: ‘mengikuti millah Ibrahim’ (An-Nahl: 123), bermakna umum, yang bisa meliputi dua hal, yaitu akidah dan syariah. Namun jika kedua-duanya yang dimaksudkan, yakni akidah dan syariahnya sekaligus, tentu maknanya bertentangan dengan nas muhkamat (yang jelas maknanya) berikut:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ
“Untuk masing-masing (ummat) di antara kamu, Kami telah tetapkan aturan dan syari’atnya sendiri-sendiri.” (QS. Al-Mâidah [5]: 48).
Karena itu, pengertian yang tepat:  ‘Kami telah mewahyukan prinsip tauhid yang sama dengan apa yang Kami wahyukan kepada Nuh. Termasuk makna millah Ibrahim adalah: Mengikuti prinsip tauhid Ibrahim yang lurus. Meskipun dalam masalah syariatnya berbeda. Alasannya karena: Masing-masing telah kami tetapkan aturan dan syari’atnya sendiri-sendiri.’
Adapun ungkapan: Aslamtu ma’a Sulaimân (QS. An-Naml: 44), yang dinyatakan oleh Balqis, sama sekali tidak menunjukkan Balqis memeluk agama Islam, atau agama Nabi Sulaiman adalah Islam. Tetapi makna ayat tersebut adalah: Aku tunduk kepada Sulaiman dan agamanya. Sebab, tidak ada indikasi yang menjelaskan maksud tersebut. Antara lain tidak ada lafadz: Islâm dan Din, yang disebutkan dalam konteks ayat tersebut sebagai istilah agama Nabi Sulaiman, sekalipun lafadz: Aslamtu adalah satu akar kata dengan lafadz: Islâm.
Karena tidak selamanya lafadz yang asalnya satu akar kata maknanya sama. Contoh lafadz:Jama’a dengan lafadz: Jimâ’ jelas berbeda maknanya. Jama’a artinya mengumpulkan, sedangkan jimâ’ artinya bersetubuh. Padahal keduanya adalah satu akar kata yang mengikuti wazan yang sama. Disamping itu lafadz: Aslama bisa diartikan: Tunduk dan patuh sebagaimana makna bahasanya. Ini termasuk lafadz: Muslim dan Muslimin. (Hafidz Abdurrahman, Diskursus Islam, 2004)
Alasan lain, pembahasan apakah agama Nabi terdahulu Islam atau tidak sebenarnya merupakan pembahasan akidah yang dijelaskan oleh al-Quran sebagai kisah, atau sesuatu yang realitasnya tidak ada pada saat ini. Sehingga untuk membuktikannya hanya bisa dilakukan melalui nash yang qath’i (pasti), sementara tidak ada satu pun nash qath’i yang menjelaskan pengertian seperti ini. Kecuali dengan teks yang umum: Aslamtu, Muslimîn dan Muslim dan sebagainya. Disamping juga karena tidak disertai indikasi yang bisa menjelaskan pengertian syar’inya, sehingga nas-nas tersebut tidak bisa diartikan dengan maksud memeluk agama Islam.*
Penulis akademisi, tinggal di Purwakarta – Jawa Barat
Rep: Administrator
Editor: Cholis Akbar
Topik: 

Saturday, 4 January 2014

BAGAIMANA PENDAPAT ANDA....????

Gereja Dukung Wacana Pemimpin Kristen 2014


Gereja Dukung Wacana Pemimpin Kristen 2014
JAWABAN.COM
Himpunan Warga Gereja di Indonesia (Hagai) adakan temu konsultasi dengan para pimpinan Parpol Kristiani Nasional di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) Salemba Raya Jakarta

Hidayatullah.com–
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mendukung wacana sejumlah tokoh nasional untuk mengusung pemimpin Kristen di pentas nasional menghadapi Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014 mendatang.
Sekretaris Eksekutif Bidang Marturia PGI Pdt. Favor A. Bancin, mengatakan ada ada dua suksesi yang telah diagendakan pihaknya pada tahun 2014 nanti yakni politik nasional dan suksesi pergantian kepemimpinan di PGI sendiri.
“Kami mendukung wacana itu dengan catatan mendukung keimanan kekristenan. Dan, diharapkan siapa pun nanti pemimpinnya, tidak sektarian dan merangkul semua potensi bangsa,” kata Favor dalam perbincangan dengan hidayatullah.com, Senin (07/10/2013).
Ia menambahkan, umat Kristiani baik PGI maupun Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan lainnya terus melakukan pembinaan dan pendidikan politik kepada segenap umat.
Menurut Favor, bangsa Indonesia terus dirundung banyak masalah. Termasuk soal penyakit korupsi yang kian merajalela dinilai dia sebagai tragedi kemanusiaan yang hanya bisa dicegah dengan keimanan.
“Kita tidak bisa hanya menyampaikan kepada umat soal surga dan neraka saja tapi kita juga harus aktif membimbing keimanan komunitas bangsa,” serunya.
Seperti diketahui, tokoh nasional yang juga mantan sekretaris umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Richard Daulay mewacanakan tampilnya pemimpin Kristen di pentas nasional menghadapi Pilpres 2014.
Richard menyebutkan, sebagai negara majemuk, saatnya bagi Indonesia memunculkan potensi umat kristen di bidang pemerintahan.
“Pemimpin kristen bukan sebuah keniscayaan, tetapi harapan yang dapat diwujudkan,” kata Pendeta Dr Richard Daulay pada diskusi bertajuk “Peran Gereja Menyongsong 2014″ di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LIA), Jakarta, September lalu (19/9/2013).
Pendeta Richard mengungkapkan, saat ini terdapat sejumlah tokoh kristen yang berpotensi menjadi pemimpin.
Ia menyebutkan sejumlah nama potensial seperti Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang, EE Mangindaan, dan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Selain itu, Menparekraf Mari Elka Pangestu, mantan Menteri Perindustrian Luhut Binsar Pandjaitan, mantan Pangkostrad Letjen TNI (Purn) Johnny Lumintang.
“Kita harus bersatu mendayagunakan potensi yang ada bagi kemajuan bangsa,” kata Pendeta Richard dikutip laman Beritasatu yang berada dibawah korporasi Grup Lippo milik Ciputra ini.*
Editor: Cholis Akbar

MENGHADAPI PEMILU 2014

Indonesia Tidak Butuh Pemimpin yang Hidup dari Pencitraan

Terlalu banyak pemimpin yang sibuk dengan pencitraan pribadinya tapi lupa pada substansi masalah bangsa ini

Indonesia Tidak Butuh Pemimpin yang Hidup dari Pencitraan
Drajat Wibowo

Hidayatullah.com–
Indonesia tidak butuh pemimpin yang hanya mengedepankan politik pencitraan. Hal ini disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Drajad Wibowo.
 Menurut Drajad, saat ini masyarakat selalu disuguhkan oleh kampanye politik berdasarkan pencitraan bukan pada kualitas kinerja. Padahal bangsa ini sedang dihadapkan pada masalah serius, yaitu ancaman dimana kekuatan parlemen dikuasai oleh kaum kapitalis.
“Jangan saudara berpikir setelah adanya parlemen urusan negara sudah selesai, padahal disana mendominasi kaum kapital,” jelasnya dalam acara pengajian di Kantor PP Muhammadiyah Jalan Menteng Raya 62 Jakarta, Jum’at (03/01/2014).
Menurutnya, jika masalah penjajahan kapitalisme ini akan bertambah buruk jika dihadapi oleh pemimpin yang lahir karena pencitraan. Ini bisa dirasakan dari banyaknya aset sumber daya alam Indonesia yang dikuasai asing.
“Sementara birokrasi kita digunakan untuk kesewenang-wenangan yang tidak memihak pada kepentingan rakyat,” tambahnya.
Kenapa hal ini bisa terjadi? Menurut orang kepercayaan Hatta Rajasa ini, semua ini karena politik Indonesia masih disibukkan dengan pencitraan.
“Terlalu banyak pemimpin yang sibuk dengan pencitraan pribadinya tapi lupa pada substansi masalah bangsa ini,” tegasnya.*
Editor: Cholis Akbar

AL-QUR'AN SEBAGAI OBAT

Al Quran sebagai Obat
"Wanunazzilu minal Qurani maa huwa Syifaa u Wa Rahmatan Lil Mukminin..."
Artinya: Dan kami turunkan Al Quran suatu penawar (obat) bagi orang-orang yang beriman.. (QA : 17 : 82)

DR. Ahmad Al-Qodi', direktur utama islamic medicine for education and research yang berpusat di amerika sekaligus konsultasi ahli sebuah klinik di panama city, florida amerika serikat telah melakukan penelitian tentang pengaruh Al Quran pada manusia dalam perspektif fisiologis dan psikologis yang terbagi dalam 2 tahapan. Tahap pertama bertujuan untuk menentukan kemungkinan adanya pengaruh Al Quran pada fungsi organ tubuh sekaligus mengukur intensitas pengaruhnya jika ada. Hasil eksperimen pertama ini membuktikan bahwa 97% responden, baik muslim maupun non-muslim, baik yang mengerti bahasa arab maupun tidak, mengalami beberapa perubahan fisiologis yang menunjukkan tingkat ketegangan urat syaraf reflektif. Hasilnya membuktikan bahwa Al Quran memiliki pengaruh yang mampu merelaksasi ketegangan urat syaraf tersebut. Fakta ini secara tepat terekam dalam sistem detektor elektronik yang didukung komputer guna mengukur perubahan apapun dalam fisiologi(organ) tubuh.
Dari penelitian tersebut juga di ketahui, bahwa ketegangan urat syaraf berpotensi megurangi daya tahan tubuh yang disebabkan terganggunya keseimbangan fungsi organ dalam tubuh untuk melawan sakit atau membantu proses penyembuhan.
Sementara itu, eksperimen yang kedua diarahkan guna mengetahui apakah efek relaksasi yang di timbulkan Al Quran pada ketegangan syaraf beserta perubahan-perubahan fisiologis yang mengiringinya benar-benar disebabkan oleh kalimat-kalimat Al Quran sendiri secara definitif, tanpa memandang apakah kalimat-kalimat itu dapat dipahami oleh pendengan atau tidak.
Dalam penelitian tersebut, para responden non-muslim yang tidak memahami bahasa arab diperdengarkan bacaan Al Quran dan bacaan teks bahasa arab yang dilantunkan dengan kesamaan instrumen dengan aspek lafal, bentuk dan melodi sehingga para responden tidak bisa membedakan keduanya karena memang mereka buta sama sekali dengan bahsa arab. dan ternyata, hasilnya cukup fositif. Eksperimen penyimakan bacaan al quran menunujukkan hasil hingga 65%. Hal itu berati bahwa voltase listrik pada otot relatif menurun, sehingga mengindidkasikan adanya efek relaksasi Al Quran pada sterss. Sementara pada bacaan berbahsa arab non Al Quran, pengaruh ini hanya terlihat 33% saja.
Untuk melakukan hasil itu, pengulangan eksperimenpun dilakukan pada sejumlah responden dengan melakukan pengubahan ulang urutan bacaannya dengan non Al Quran. dan ternyata hasilnya tetap positif.
Hasil penelitian quranik yang dilakukan oleh DR. Ahmad Al-Qodi' dalam kajian ini menunjukkan bahwa AlQquran memiliki pengaruh positif yang signifikan dalam menurunkan ketegangan (stres), dan ini dapat dicatat dan diukur secara kuntitatif maupun kualitatif. Pengaruh tersebut tampak dalam bentuk perubahan-perubahan yang terjadi pada arus listrik otot urat syaraf, juga perubahan pada daya tangkap kulit terhadap konduksi listrik, perubahan pada sirkulasi darah, serta perubahan pada detak jantung, kadar darah yang mengalir pada kulit dan suhu kulit yang kesemuanya saling terkait dan paralel dengan perubahan-perubahan aspek lain.
Semua perubahan ini menunjukkan fungsi dan kinenja sistem syaraf otomatik(reflektif) yang lebih lanjut berpengruh pada organ-oragan tubuh yang lain serta fungsi-fungsinya. Karena itu, ditemukan adanya kemungkinan-kemungkinan tak terbatas pada pengaruh-pengaruh fisiologis yang bisa dihasilkan Al Quran.
Selain itu, sudah maklum adanya bahwa stres berpotensi menurunkan imunitas(daya kekebalan) tubuh, kemungkinan hal itu disebabkan oleh sekresi cortizol atau zat lain sebagai reaksi antara sistem syaraf dan sistem kelenjer endokrin. Untuk itu bisa diambil hipotesa bahwa efek relaksasi Al Quran bagi stres dapat berpotensi mengaktifkan fungsi daya tahan tubuh yang berperan besar dalam melawan penyakit atau membantu proses penyembuhan. hal itu, dapat terjadi pada penyakit-penyakit gangguan pencernaan, infeksi, kanker dan lain sebagainya.
Hal demikian menunjukkan bahwa kalimat-kalimat Al Quran sendiri memiliki pengaruh fisiologis yang bisa merrredakan ketegangan otot pada tubuh, tanpa harus mengetahui makna kata-kata itu sendiri.

(dari : buku Fikih kesehatan karangan Ahsin W. Al Hafidz)

Subhanallah, segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al Quran kepada kita. bagi orang yang tidak mengerti sama sekali saja terbukti Al Quran memberikan manfaat, apa lagi bagi orang yang mengerti dan paham tentang isi Al Quran. Mari, kembali kita kepada Al Quran, kita tingkatkan bacaaan Al Quran kita , kita tingkatkan hafalan, kita tingkatkan pemahaman kita tentang isi dan kandungan yang terdapat dalam Al Quran yang subhanallah luar biasa hebatnya.
Mudah2an ada manfaatnya yach...amin

Friday, 3 January 2014

KEUTAMAAN AL-QUR'AN

Alquran Al-Karim adalah pedoman hidup umat manusia, walaupun yang mengambil manfaat hanyalah orang-orang yang bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 2). Begitu banyak hikmah dari memperbanyak membaca Alquran.

Pertama, mendapatkan pahala yang sangat banyak, di mana satu huruf diberi balasan dengan sepuluh kebajikan, sebagaimana diriwayatkan oleh Iman At-Tirmidzi dalam sebuah hadits Rasulullah SAW. Kita tahu bahwa seluruh Alquran, menurut sebuah literatur berjumlah 325.015 huruf, yang berarti satu kali khatam Alquran mendapatkan nilai pahala kebajikan kelipatan sepuluh, yakni 3.250.150.

Tentu untuk meraihnya, kita harus berusaha memperbanyak membaca Alquran. Baik sebulan sekali, dua bulan sekali, atau bahkan tiga bulan sekali. Bahkan banyak di antara ulama Alquran yang mampu mengkhatamkan Alquran setiap seminggu sekali.

Kedua, Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang selalu membaca Alquran, mempelajari isi kandungannya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab Alquran dan Allah merendahkan kaum yang lainnya (yang tidak mau membaca, mempelajari dan mengamalkan Alquran).” (HR Bukhari).

Secara logika dapat kita pahami, mengapa orang-orang yang membaca dan mempelajari isi kandungan Alquran dan berusaha mengamalkannya diangkat derajatnya oleh Allah SWT? Orang-orang yang membaca Alquran berarti orang-orang yang selalu dekat dengan Allah, bahkan membaca Alquran merupakan bercakap-cakap dengan Allah SWT.

Ketiga, mendapatkan ketengan jiwa atau hati yang sangat luar biasa, di mana setiap ayat Alquran yang dibacanya akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman bagi para pembacanya. Sebagaimana diterangkan dalam surah Al-Isra [17] ayat 82, Alquran diturunkan Allah SWT untuk menjadi obat segala macam penyakit kejiwaan. Sehingga para pembaca Alquran, bahkan orang yang mendengarkan bacaannya mendapat pula ketenangan jiwa.

Keempat, mendapatkan syafaat (pertolongan) pada hari Kiamat. Hal ini dijelaskan pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Muslim. “Bacalah Alquran oleh kamu sekalian, karena bacaan Alquran yang dibaca ketika hidup di dunia ini, akan menjadi syafaat/penolong bagi para pembacanya di hari Kiamat nanti.”

Maka perbanyaklah membaca Alquran ketika nafas masih menyertai kita dan denyut jantung masih bergerak, karena bacaan Alquran akan menjadi syafaat/penolong bagi para pembacanya di hari Kiamat nanti, dikala manusia banyak yang sengsara dan menderita.

Kelima, akan terbebas dari aduan Rasulullah SAW pada hari Kiamat nanti, di mana ada beberapa manusia yang diadukan Rasulullah SAW pada hari Kiamat dihadapan Allah SWT.
Jadi, perbanyaklah membaca Alquran, luang waktu sisa-sisa kehidupan yang Allah berikan untuk memperdalam ajarannya. Jangan disia-siakan, karena Alquran akan mengantarkan kemudahan kita ketika menghadap Allah SWT (sakaratul maut).

HIKMAH BERIMAN KEPADA HARI AKHIR.

Hikmah Beriman kepada Hari Akhir

Hikmah atau faedah yang dapat kita peroleh dari keyakinan dan kepercayaan kita kepada hari akhir atau hari kiamat, antara lain sebagai berikut. 
  • Kita yakin bahwa hidup di alam yang fana' dan singkat ini ada artinya, bukan cuma sekadar hidup, lalu mati, setelah itu habis perkara. Hidup di dunia ini ibarat berkebun. Apapun jenis buah yang kita tanam, kita akan memetik hasilnya. Jika kita berbuat kebaikan di dunia, maka kita akan memetik hasilnya di akhirat berupa kehidupan yang bahagia. Sebaliknya, jika sering berbuat kejahatan dan kemaksiatan di dunia, maka hasil yang kita petik di akhirat berupa kesengsaraan dan penderitaan yang amat berat. Karena kehidupan di akhirat ditentukan oleh amal perbuatan di dunia, maka selagi kita hidup di dunia hendaknya kita isi dengan beribadah kepada Allah swt. dan banyak berbuat kebaikan. 
  • Dalam hidup, kita menjadi lebih yakin dan optimis untuk melakukan hal-hal yang terbaik. Kita lebih giat belajar dan bekerja agar memperoleh kebahagiaan di dunia. Jika kita bahagia, maka hidup kita akan tenang. Jika hidup kita tenang, maka kesempatan kita untuk beribadah dan melakukan kebajikan akan lebih besar. Dengan demikian, insya Allah kita dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Seandainya kita belum beruntung hidup di dunia, kita masih memiliki harapan untuk memperoleh keberuntungan di akhirat. Asalkan, kita bertaqwa kepada Allah swt. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia akan memberi kepada siapa saja yang meminta, walaupun seseorang itu tidak taat kepada perintah-Nya. Akan tetapi, Allah hanya menyayangi orang-orang yang beriman di akhirat kelak. 
  • Kita semakin terkondisikan berperilaku atau bersifat ikhlas dalam beramal. Karena pengadilan Allah adalah pengadilan yang maha adil, maka akan tumbuh dalam diri kita niat untuk ikhlas beramal. Di akhirat setiap orang diminta pertanggungjawaban masing-masing. Orang yang ikhlas ketika beribadah, ia tidak mengharapkan imbalan dari orang lain, kecuali ridha Allah swt. Orang yang ikhlas selalu giat bekerja meski diawasi orang lain ataupun tidak. 
  • Semakin berhati-hati, dan selalu berupaya untuk menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Karena dengan meyakini akan adanya neraka, tempat orang-orang yang penuh dosa dan perbuatan maksiatnya melebihi amal baiknya, maka kita berusaha untuk menghindari tempat terkutuk itu. Orang yang tidak beriman kepada hari akhir, dia tidak mengetahui bahwa setelah mati akan ada kehidupan yang jauh lebih panjang daripada kehidupan di dunia, ia juga tidak yakin akan adanya neraka tempat penyiksaan orang-orang yang berdosa. Oleh sebab itu, dengan seenaknya mereka mengerjakan kemaksiatan

HIKMAH BERIMAN KEPADA HARI AKHIR.

Hikmah Beriman kepada Hari Akhir

Hikmah atau faedah yang dapat kita peroleh dari keyakinan dan kepercayaan kita kepada hari akhir atau hari kiamat, antara lain sebagai berikut. 
  • Kita yakin bahwa hidup di alam yang fana' dan singkat ini ada artinya, bukan cuma sekadar hidup, lalu mati, setelah itu habis perkara. Hidup di dunia ini ibarat berkebun. Apapun jenis buah yang kita tanam, kita akan memetik hasilnya. Jika kita berbuat kebaikan di dunia, maka kita akan memetik hasilnya di akhirat berupa kehidupan yang bahagia. Sebaliknya, jika sering berbuat kejahatan dan kemaksiatan di dunia, maka hasil yang kita petik di akhirat berupa kesengsaraan dan penderitaan yang amat berat. Karena kehidupan di akhirat ditentukan oleh amal perbuatan di dunia, maka selagi kita hidup di dunia hendaknya kita isi dengan beribadah kepada Allah swt. dan banyak berbuat kebaikan. 
  • Dalam hidup, kita menjadi lebih yakin dan optimis untuk melakukan hal-hal yang terbaik. Kita lebih giat belajar dan bekerja agar memperoleh kebahagiaan di dunia. Jika kita bahagia, maka hidup kita akan tenang. Jika hidup kita tenang, maka kesempatan kita untuk beribadah dan melakukan kebajikan akan lebih besar. Dengan demikian, insya Allah kita dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Seandainya kita belum beruntung hidup di dunia, kita masih memiliki harapan untuk memperoleh keberuntungan di akhirat. Asalkan, kita bertaqwa kepada Allah swt. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia akan memberi kepada siapa saja yang meminta, walaupun seseorang itu tidak taat kepada perintah-Nya. Akan tetapi, Allah hanya menyayangi orang-orang yang beriman di akhirat kelak. 
  • Kita semakin terkondisikan berperilaku atau bersifat ikhlas dalam beramal. Karena pengadilan Allah adalah pengadilan yang maha adil, maka akan tumbuh dalam diri kita niat untuk ikhlas beramal. Di akhirat setiap orang diminta pertanggungjawaban masing-masing. Orang yang ikhlas ketika beribadah, ia tidak mengharapkan imbalan dari orang lain, kecuali ridha Allah swt. Orang yang ikhlas selalu giat bekerja meski diawasi orang lain ataupun tidak. 
  • Semakin berhati-hati, dan selalu berupaya untuk menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Karena dengan meyakini akan adanya neraka, tempat orang-orang yang penuh dosa dan perbuatan maksiatnya melebihi amal baiknya, maka kita berusaha untuk menghindari tempat terkutuk itu. Orang yang tidak beriman kepada hari akhir, dia tidak mengetahui bahwa setelah mati akan ada kehidupan yang jauh lebih panjang daripada kehidupan di dunia, ia juga tidak yakin akan adanya neraka tempat penyiksaan orang-orang yang berdosa. Oleh sebab itu, dengan seenaknya mereka mengerjakan kemaksiatan

Thursday, 2 January 2014

keutamaan shaf pertama




Artikel Hadits 

Keutamaan Menempati Shaf Pertama Pada Hari Jum'at
khamis, 02-01-2014
Diriwayatkan dari Samurah bin Jundab radhiyallahu 'anhu , ia berkata: Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
احضروا الجمعة، وادنوا من الإمام، فإن الرجل ليكون من أهل الجنة، فيتأخر عن الجمعة، فيؤخر عن الجنة، وإنه لمن أهله 
"Hadirilah shalat Jum'at, mendekatlah kepada imam. Sesungguhnya seseorang itu termasuk penghuni Surga namun ia terlambat dari shalat Jum'at hingga ia ditangguhkan dari Surga padahal ia termasuk penghuni Surga" (HR. Ahmad) 

Kandungan Bab: 

1. Keterangan tentang rendahnya kedudukan orang-orang yang terlambat shalat Jum'at dan jahilnya orang-orang yang jauh dari mendengar nasihat pada hari Jum'at. Karena sesungguhnya mereka telah menjatuhkan kedudukan mereka dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang menempati kedudukan tinggi dan membenci orang-orang yang menempati kedudukan yang rendah. 

2. Makruh hukumnya terluput dari shaf-shaf terdepan, karena hal tersebut akan mengurangi pahala dan menghalangi seseorang dari kedudukan dan maqam yang tinggi. 

Sumber: Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, Syekh Salim bin 'Ied Al-Hilali,Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Jilid I, Hal: 495 

Wednesday, 1 January 2014

Allah Tuhanku, Nabi Muhammad Nabiku, Islam Agamku, Al-Qur'an Kitabku...

indahnya perbedaan dalam isl

Imam Syafi’i dan Para Lawan Debatnya

Lihatlah akhlaq Imam Syafi’i dan betapa tawadhu’ nya beliau dalam berdebat. Beliau diam ketika terlihat kebenaran atas pendebatnya. Tanpa meninggikan suara apalagi menjatuhkan
Imam Syafi’i dan Para Lawan Debatnya
ILUSTRASI/ROL
Adabnya dan tawadhu’nya beliau saat diam ketika terlihat kebenaran atas pendebatnya

Terkait

IMAM Syafi’i, salah satu imam madzhab empat. Ulama yang lahir di Gaza 150 H dan wafat di Mesir 204 H ini dikenal sebagai mujtahid mutlak. Beliau dikenal dengan beberapa karyanya antara lain Al Umm (fiqih), Ar Risalah (ushul fiqih), dll.
Tidak diragukan lagi bahwa Imam Syafi’i amat akrab dengan perdebatan, beberapa ulama besar pun pernah terlibat perdebatan dengannya, seperti Muhammad bin Al Hasan, Syeikh ahlu ra’yi, sahabat sekaligus “ustadz” Imam Syafi’I sendiri, juga Asbagh bin Al Farj bin Sa’di, faqih dari kibar ulama madzhab Maliki di Mesir, begitu pula pernah berdebat dengan Imam Ahmad bin Hambal tentang kekufuran mereka yang meninggalkan shalat.
Akan tetapi setiap ia berdebat dengan ulama lain ia selalu menggunakan adab dan sopan santun serta tidak mencela lawannya.
Adalah Abu Utsman, putranya pernah mengatakan: “Aku sekali-kali tidak pernah mendengar ayahku mendebat seseorang dengan meninggikan suaranya.” (Tahdzibul Asma’ Wal Lughat, hal. 66, vol.1).
Ahmad bin Kholid bin Kholal berkata:  “Aku mendengar Syafi’i berkata, “ketika aku mendebat seseorang aku tidak menginginkan dia jatuh kepada kesalahan.” (Tawaliyut Ta’sis, hal. 65)
Syafi’i sendiri juga pernah berkata: “Aku berdebat tidak untuk menjatuhkan orang.” (Tahdzibul Asma Wal Lughat, hal 66, vol.1)
Hafidz Ad Dzahabi menukil di Siar A’lamin Nubala’, dari Imam Hafidz Abu Musa Yunus bin ‘Abdul A’la Ashodafi Al Misri, salah satu sahabat Imam Syafi’i, dia berkata:  “Aku tidak melihat orang berakal melebihi Syafi’i, aku mendebatnya tentang suatu masalah pada suatu hari, kemudian kami berpisah, lalu dia menemuiku, dan menggandeng tanganku, lalu berkata:  “Wahai Abu Musa, bukankan lebih baik kita tetap berteman walau kita tidak sepakat dalam satu masalah?”
Berkata Imam Ad Dzahabi:  “Ini menunjukkan kesempurnaan akal imam ini, dan faham atas dirinya…” (Siar A’lam An Nubala’ hal. 16, vol. 10).
 ‘Alamah Murtadha Az Zabidi berkata dalam Syarh Ihya’ ketika imam Ghazali membahas tentang perdebatan-perdebatan para salafus shalih, bagaimana hal itu terjadi di antara mereka, bagaimana mereka mempertahankan al haq dengan adab dan sopan santun, berkatalah Murtadha Az Zabidi:  “Salah satu di antarnya adalah perdebatan Ishaq bin Rahuyah dengan Imam Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal hadir pula di tempat itu, aku telah membaca dari Kitab Nasikh Wal Mansukh, karya Hafidz Abu Al Hasan Badali bin Abil Ma’mar At Tibrizi: “…Dikisahkan bahwa Ishaq bin Rahuyah mendebat Syaf’i, dan Ahmad bin Hambal ada di tempat itu juga, tentang hukum kulit bangkai jika disamak. Maka, berkatalah Syafi’i:  “Jika disamak maka menjadi suci.” Maka berkatalah Ishaq: “Apa dalilnya?” Maka Syafi’i menjawab: “Hadits Az Zuhri dari ‘Ubaidillah bin Abdullah bin Abdullah, dari Ibnu ‘Abbas, dari Maimunah, bahwa sesungguhnya Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Was Salam bersabda:  “Tidakkah kalian memanfaatkannya dengan cara menyamaknya?”
Maka berkatalah Ishaq kepadanya: “Hadits Ibnu ‘Ukaim: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Was Salam telah menulis untuk kami, kira-kira sebulan sebelum beliau meninggal, “Jangan memanfaatkan sesuatu dari bangkai dengan, baik kulitnya maupun dagingnya.” Hadits ini sepertinya memansukh hadits Maimunah, karena datang satu bulan sebelum wafat”.
Maka berkatalah Syafi’i:  “Ini tulisan dan tadi (hadits Maimunah) ucapan.” Ishaq menjawab: “Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menulis untuk Kisra dan Qoishar, dan hal itu hujjah di antara mereka dihadapan Allah, dan diamlah Syafi’i.
Dan ketika Ahmad bin Hambal mendengar hal itu, dia memilih hadits Ibnu ‘Ukaim dan berfatwa dengannya, dan sebaliknya Ishaq malah condong kepada hadits Syafi’i.
Berkata Abu Al Hasan At Tibrizi: “Khalal telah mengisahkan dalam kitabnya, bahwa Ahmad bin Hambal tawaquf terhadap hadits Ibnu ‘Ukaim ketika melihat tazalzul (kegoncangan) dalam periwayatannya, dan ada beberapa yang mengatakan bahwa Imam Ahmad meninggalkan hadits tersebut.”
Cara inshaf dalam masalah ini adalah, bahwa hadits Ibnu ‘Ukaim kalau dilihat secara dhahirmemang menunjukan nashk jika sahih, akan tetapi hadit tersebut itthirab (guncang), maka dia tidak sebanding kesahihannya jika dihadapkan dengan hadits Maimunah, berkata Abu ‘Abdurrahman An Nasai: “Yang paling sahih dalam masalah ini adalah hadits Maimunah.” (Syarhul Ikhya’, hal.291, vol.1)
Abdul Fattah Abu Ghuddah mengomantari nukilan di atas: “Lihatlah, inshaf Ishaq yang meninggalkan pendapatnya setelah jelasnya kebenaran, dan adab Syafi’i dan tawadhu’nya, di mana ia diam ketika terlihat kebenaran atas pendebatnya.”/Thoriq
Rep: Thoriq
Editor: Cholis Akbar

mutiara hikmah

Allah menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa dianugerahi al-himah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (al-Baqarah: 269)

"Ampunilah kami ya Robb kami dan kepada Engkau-lah tempat kembali." (QS Al Baqarah: 285)

"Andaikata berlaku keatas seseorang pemimpin itu TANDA-TANDA KEKUFURAN, PERBUATAN MERUBAH SYARIAT DAN PERLAKUAN BID'AH, MAKA WAJIBLAH DILUCUTKAN kepemimpinan daripadanya dan gugurlah tanggungjawab ketaatan rakyat kepadanya. Malah berkewajiban untuk memecatnya dan digantikan dengan seorang yang adil." (Syarah Muslim -- Imam Nawawi)

Apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. (asy-Syuura: 30) Apa saja bencana yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. an-Nisaa: 79)

Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka laksanakanlah. Dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (Q.S. Al-Hasyr : 7)

"Banyak bersikap diam adalah keindahan yang menghiasi orang yang berakal dan rahasia yang menutup-nutupi orang bodoh" (Ulama)

Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.
Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim, baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

"Barangsiapa yang memegang kuasa tentang sesuatu urusan kaum muslimin, lalu dia memberikan suatu tugas kepada seseorang, sedangkan dia mengetahui bahwa ada orang yang lebih baik daripada orang itu, dia telah mengkhianati Allah, RasulNya dan kaum muslimin." (Hadis Riwayat Al-Hakim)

“Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al Mu’min: 60).