bisnis

Wednesday, 24 September 2014

8 TRIK MENJAGA KEMALINGAN

8 Cara Agar Tidak Kemalingan

Sebuah data statistik menyebutkan, setiap 37 detik ada satu rumah yang dibobol maling di berbagai belahan dunia. Lebih dari satu juta kasus pencurian terjadi setiap tahunnya, meningkatkan angka pencurian hingga 3 persen sejak 2008.



Michael Fraser, presenter program variety show Inggris, Beat the Burglar, berbagi sejumlah tips mencegah aksi pencurian, seperti ditulis dalam Daily Mail. 


Quote:



1. Pasang kamera CCTV

Kamera CCTV tak hanya dikhususkan bagi tempat-tempat umum, seperti perkantoran atau pusat perbelanjaan saja. Kamera mungil pengintai pencuri ini juga dapat digunakan di kediaman pribadi. Sejumlah produsen gadget juga menyediakan kamera CCTV yang dihubungkan dengan perangkat gadget yang akan melaporkan kondisi di rumah Anda melalui e-mail atau SMS. Dua di antaranya ialah Logitech Digital Video Security System (Logitech.com) dan Alertme.com.


2. Rawat rumah dengan baik

Jika pagar rumah Anda mulai rusak, penyok, atau miring, segera perbaiki. Pagar rumah yang tidak terawat menandakan penghuni kurang mengurus rumahnya dengan baik, apalagi memperketat penjagaannya dari gangguan pencuri. Ini salah satu trik yang digunakan para pencuri dalam memilih target incarannya.




Perbaiki bagian rumah yang mengalami kerusakan, segera setelah Anda menyadarinya. Rumah yang terawat dengan apik membuat para pencuri bersugesti bahwa penghuninya juga memiliki penjagaan ekstra ketat.


3. ‘Sembunyikan’ hewan peliharaan

Memasang tulisan “Awas Anjing Galak” di pagar rumah sama saja dengan menunjukkan Anda tak punya alarm, kamera CCTV, atau trik lain untuk mengamankan rumah Anda. Para pemilik anjing penjaga cenderung hanya mengandalkan anjingnya untuk membentengi rumah. Selain itu, peringatan ini dapat membuat kawanan pencuri bersiap-siap melumpuhkan si Doggy terlebih dulu sebelum akhirnya menembus kediaman Anda.



Dengan tidak memasang pengumuman “Awas Anjing Galak” di depan rumah, Anda akan membuat para pencuri kurang waspada saat memasuki kediaman Anda. Tanpa mereka sadari, seekor anjing buas siap menyambut mereka di bawah pagar.


4. Pastikan rumah selalu dalam kondisi tertutup

Selalu mengunci pintu dan jendela, walau saat Anda berada di rumah. Para pencuri sudah semakin nekat saja, berani menerobos masuk rumah walau sedang ramai penghuni.



Pasang gorden di setiap jendela, termasuk di area belakang rumah, seperti dapur. Tanpa gorden, para pencuri akan dengan mudah mengintai setiap aktivitas Anda dan mengetahui kapan Anda lengah.



5. Pastikan kalender di rumah selalu ‘bersih’

Hindari menulis apapun di kalender, termasuk jadwal liburan keluarga. Dengan begini, pencuri akan leluasa memasuki kediaman Anda untuk kedua kalinya, karena sudah tahu kapan Anda dan keluarga tidak berada di rumah. Alih-alih menulis reminder di kalender, gunakan buku harian atau perangkat digital untuk mencatat jadwal kegiatan Anda.


6. Simpan koper di tempat tersembunyi


Gunakan rak lemari paling atas atau kolong tempat tidur untuk menyimpan koper atau travel bag berukuran besar. Pencuri akan mengincar tas-tas berukuran besar untuk menyimpan hasil curiannya. Semakin besar tas yang ditemukan, semakin banyak pula barang-barang yang diambil dari rumah Anda.


7. Hafal kondisi terakhir rumah


Saat Anda akan bepergian dalam waktu lama, potret atau rekam kondisi terakhir rumah sebelum Anda pergi. Dengan cara ini, Anda bisa segera menyadari jika terjadi perubahan di rumah Anda, seperti posisi barang yang berpindah atau hilang. Foto atau video rekaman ini juga dapat dijadikan bukti bagi kepada pihak asuransi. Tapi hati-hati, bawa serta hasil rekaman dan fotonya, jangan sampai ikut digondol maling juga.


8. Jika berhadapan langsung dengan pencuri



Jangan menyerang! Pelaku sudah lebih dulu siaga mempersiapkan serangan balik jika kepergok korbannya, termasuk menyembunyikan senjata di balik pakaiannya. Tak sedikit jatuh korban nyawa akibat bergulat dengan pencuri. Jika Anda berhadapan langsung dengan si pencuri, segera pecahkan jendela rumah untuk menarik perhatian tetangga atau petugas siskamling. Anda juga bisa melarikan diri lewat jendela dan mengunci pagar rumah agar pencuri tidak bisa kabur.

Saturday, 20 September 2014

MENGENAL PENYAKIT HATI MENURUT ISLAM

“Di dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit tersebut, dan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih akibat apa yang mereka dustakan“. (QS. Al-Baqarah: 10)

Ada beberapa pelajaran dari ayat di atas, di antaranya:

Pertama: 
Menurut al-Baidhowi di dalam tafsirnya (1/166), sakit adalah sesuatu yang mengganggu keseimbangan  badan sehingga membuat kerusakan di dalam beraktifitas. Sakit dibagi menjadi dua, sakit hati dan sakit fisik. Adapun sakit hati  meliputi: sakit ragu-ragu, nifak,  ingkar dan dusta. (lihat tafsir al-Qurthubi: 1/138). Penyakit –penyakit hati seperti inilah yang menimpa orang-orang munafik.
Selain itu, terdapat penyakit hati dalam bentuk lain, seperti sakit hasad, dengki, iri, dan dendam yang kadang juga menimpa sebagian orang-orang Islam. Oleh karenanya, kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari penyakit hati tersebut, sebagaimana firman Allah dalam Qs. al-Falaq: 5, “Dan aku berlindung dari kejahatan  orang yang hasad jika dia hasad“ 

Kedua: 
Penyakit hati jauh lebih berbahaya dari penyakit fisik, hal itu karena beberapa sebab:

1. Allah mencela orang yang mempunyai penyakit hati dan tidak pernah mencela orang yang mempunyai penyakit fisik.

2. Penyakit hati, seperti iri, dengki dan dendam bisa menyebabkan munculnya penyakit fisik, seperti stress, sesak nafas, pusing, jantung, tekanan darah tinggi dan kanker.

3. Penyakit hati menyebabkan orang celaka dunia dan akhirat, berbeda dengan penyakit fisik yang tidak menyebabkan celaka di akherat.

Ketiga: Allah menyebutkan: “Di dalam hati mereka ada penyakit“ ini menunjukkan bahwa penyakit tersebut sudah masuk ke dalam tubuh secara permanen, sehingga menjadi akut dan susah untuk dihilangkan, karena berada di dalam hati. Berbeda kalau menyebut: “ Mereka sakit “, mungkin masih bisa disembuhkan.

Keempat: 
“Maka Allah menambah penyakit tersebut“, menunjukkan bahwa kekafiran, kenifak-an dan kemaksiatan itu bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana juga keimanan itu bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Kelima:  Ayat di atas juga menunjukkan bahwa kesesatan seorang hamba berasal dari perbuataannya sendiri. Jadi, Allah tidak mendzoliminya, tetapi hamba itulah yang mendzalimi dirinya sendiri. Orang-orang munafik telah membuat penyakit di dalam hati mereka sendiri dan pada hakekatnya mereka tidak menginginkan kebenaran dan kebaikan. Maka, Allah menambah penyakit tersebut sebagai hukuman atas perbuatan mereka sendiri. Berkata Ibnu Katsir di dalam tafsirnya (1/179): “Hukuman sesuai dengan perbuatan”. Hal yang serupa telah dijelaskan Allah di beberapa ayat-Nya, seperti dalam Qs. al-Baqarah: 10, Qs. al-Maidah: 49,  Qs. al-An’am: 110 dan Qs. ash-Shof: 5.

Kelima:
 Penyakit hati terdiri dari penyakit syahwat dan syubhat. Penyakit syahwat berhubungan dengan maksiat anggota badan, seperti berzina, membunuh, berbohong dan mencuri. Sedang penyakit syubhat berhubungan dengan hati dan pemikiran, seperti meragukan kebenaran Islam, menolak hadist shahih dan menyakini adanya nabi setelah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Penyakit syubhat inilah yang  lebih menonjol dalam diri orang munafik, (Ibnu Qayyim, Ighatsatu al-Lahfan: 165-166) dan ini lebih berbahaya dari penyakit syahwat. Karena penderitanya susah untuk disembuhkan. Lihat Qs. an-Nisa : 137 dan Qs. al-Munafiqun: 3.

Keenam: Penyakit syubhat bisa mengeluarkan seseorang dari keimanan sehingga menjadi kafir, seperti orang–orang liberal yang meragukan keaslian al-Qur’an  dan  menolak kebenaran ajaran Islam serta menyatakan bahwa semua agama benar dan mengantarkan penganutnya ke dalam Syurga. Begitu juga kelompok Ahmadiyah yang menyakini adanya nabi seteIah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kelompok Ingkar Sunnah yang menolak keberadaan as-Sunnah sebagai sumber hukum kedua setelah al-Qur’an.

Ketujuh: Untuk mengobati penyakit syhubhat, seseorang hendaknya belajar dan mencari ilmu syar’i, sebagaimana firman Allah di dalam Qs. Muhammad: 19; “Maka ketahuilah bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah“. Adapun untuk mengobati penyakit syahwat, seseorang hendaknya sering mengingat kematian dan menyakini bahwa dunia ini adalah fana, kesenangan di dalamnya adalah kesenangan sedikit dan menipu. Sedangkan kesenangan abadi hanyalah di akhirat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (kematian)”. HR. Tirmidzi “. Wallahu A’lam


Dr. Ahmad Zain An Najah, MA
sumber: ahmadzain.com

Thursday, 18 September 2014

KEUTAMAAN "BERCINTA" DI MALAM JUM'AT

“Suami wajib menjimak istrinya sekurang-kurangnya satu kali dalam sebulan,” kata Ibnu Hazm, “kalau tidak, berarti ia durhaka terhadap Allah.”

Jika Ibnu Hazm berbicara tentang kewajiban “bercinta” bagi suami istri, Imam Al Ghazali menjelaskan mengenai kepatutannya.

“Sepatutnya suami menjimak istrinya pada setiap empat malam satu kali. Ini lebih baik…” kata ulama bergelar hujjatul Islam itu. Namun, Al Ghazali tidak memaknai batasan itu secara kaku. “Bahkan sangat bijaksana kalau lebih dari sekali dalam empat malam, boleh pula kurang dari itu, sesuai kebutuhan istri.”

Lalu jika perlu memilih hari dalam “bercinta”, adakah keutamaan malam Jum’at dibandingkan malam-malam lainnya? Dalam hal ini, hadits yang sah dijadikan rujukan adalah riwayat Tirmidzi nomor 496, An-Nasai 3/95-96, Ibnu Majah nomor 1078, dan Ahmad 4/9. Hadits-hadits itu senada, yang terjemahnya sebagai berikut:

“Barangsiapa (yang menggauli istrinya) sehingga mewajibkan mandi pada hari Jum’at kemudian diapun mandi, lalu bangun pagi dan berangkat (ke masjid) pagi-pagi, dia berjalan dan tidak berkendara, kemudian duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama tanpa sendau gurau, niscaya ia mendapat pahala amal dari setiap langkahnya selama setahun, balasan puasa dan shalat malam harinya.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

Subhanallah, dari hadits tersebut tergambar betapa besarnya balasan pahala bagi orang yang melakukannya. Yakni “bercinta”, mandi, bangun pagi, berangkat awal ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at, duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama. Pahala dalam hadits ini diberikan kepada orang yang melakukan paket enam amal itu, tidak terpisah-pisah. Namun demikian, tergambarlah keutamaan “bercinta” di malam Jum’at.

Memang ada yang berpendapat bahwa sunnah dalam hadits tersebut adalah “bercinta” pada hari Jum’at (pagi), mengingat mandi Jum’at itu dimulai setelah terbit fajar di hari Jum’at. Namun yang lebih populer adalah “bercinta” di malam Jum’at, sedangkan mandinya bisa saja saat terbit fajar sebelum menunaikan Shalat Shubuh berjama’ah. 

Abu Umar Basyir di dalam bukunya Sutra Ungu menambahkan, “Di negara yang menerapkan libur pada hari Jum’at, tentu tidak masalah jika seseorang ingin berhubungan seks pada hari itu. Lalu bagaimana di negara yang menetapkan hari Jum’at sama seperti hari-hari kerja lainnya? Bagaimanapun, hukum sunah tetap saja sunah. Jadi itu hanya soal kesempatan melakukannya saja. Jika mampu dilakukan, Insya Allah membawa berkah. Di situlah, manajemen waktu berhubungan seks menjadi perlu diatur. Karena itu bisa saja dilakukan menjelang subuh, atau sesudah shalat Subuh. Tiap pasutri tentu lebih tahu mana saat yang paling tepat.” Wallaahu a’lam bish shawab.

[Maraji': Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, Kitab Fadhail A’mal karya Ali bin Muhammad al Maghribi dan Sutra Ungu karya Abu Umar Baasyir]K

Wednesday, 17 September 2014

SPIRITUAL DI UJUNG TANDUK

Spiritual di Ujung Tanduk

Republika/Edwin Dwi Putranto
Orang berdoa
Orang berdoa
A+ | Reset | A-
REPUBLIKA.CO.ID, Kerasnya hidup di kota metropolitan menuntut mobilitas yang sangat tinggi. Padatnya aktivitas mencari nafkah, tak jarang menggerus nilai spiritualitas seseorang. Ini bukan tanpa efek samping, kata Ustaz Najmuddin Shiddin.

Menurutnya, dampak padatnya aktivitas mencari nafkah dan duniawi bagi dimensi rohani seseorang adalah hilangnya rasa kedamaian dan ketenteraman hati.

Mereka akan lebih sering stres dan tubuh yang tidak mampu menanggungnya akan jatuh sakit. ”Jika abai kebutuhan spiritual maka merugilah,” ujarnya.

Ia pun mengutip surah al-Ma'arij ayat 15-19. "Sekali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah apa yang bergejolak, yang mengelupas kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakangi dan yang berpaling dari agama serta mengumpulkan harta benda lalu menyimpannya, sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir."

Najmuddin mengungkapkan, tergerusnya spiritual justru malah dapat menjadikan mereka selalu berkeluh kesah dan semakin kikir. Hal itu karena mereka hanya menumpuk harta tanpa memedulikan kebutuhan rohaninya.  

Penyebab utamanya adalah terkikisnya keimanan yang dimiliki. Harta yang diperoleh pun tak jelas sumbernya, kalaupun halal, enggan berbagi. 

Dengan keimanan yang menipis, papar Najmuddin, mereka tidak lagi memedulikan cara dan usaha yang halal untuk mengumpulkan hartanya. Sementara, rezeki yang diperoleh tak kunjung disedekahkan sebagiannya. “Padahal, ada hak orang lain di sana,” tambah Najmuddin.

Dampak susutnya keimanan itu pula, papar Najmuddin, ialah munculnya paradigma materi adalah puncak kebahagiaan. Padahal, hakikat bahagia menurut perspektif Islam, adalah ketenteraman dan kedamaian jiwa.

Ketenangan batin itu bisa diperoleh, antara lain, dengan bersyukur serta mengaisnya dengan cara yang halal. Ini penting, mengingat makanan haram akan mendarah daging melalui aliran darah.

Akibatnya, bisa memicu efek domino. Otak berpikir jahat, lalu menjalar ke hati yang mendorong pada iri dan dengki. Najmuddin  pun mengutip surah al-Munafiqun ayat ke-9. Hendaknya harta dan anak tidak lantas melalaikan fokus seorang Muslim.

Empat cara, sebut Najmuddin, yang bisa ditempuh guna menyeimbangkan antara aktivitas duniawi dan ukhrawi.

Cara tersebut di antaranya dengan memperbanyak membaca Alquran dengan terjemahannya, melaksanakan shalat lima waktu dengan tepat waktu, infak dan sedekah serta meluangkan waktu untuk menghidupkan majelis taklim.

Sementara itu, Ustaz M Zaaf Fadhlan Rabbani al-Gharamatan mengatakan, kerasya metropolitan bukan masalah bagi Muslim dengan modal spiritual yang kuat. Mereka akan istiqamah untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dunia dan akhiratnya. 

Sedangkan bagi mereka yang minim spiritualitas adalah orang yang hidup tanpa mengerti kehidupan. Ia pun memberikan contoh, misalnya seorang karyawan yang tega meninggalkan shalat hanya lantaran menemui panggilan atasan untuk rapat. “Hal itu tidak dibenarkan," ujarnya.

Penyabet penghargaan Tokoh Perubahan Republika 2011 ini memberikan saran, mereka bisa menghentikan rapat untuk sementara dan dapat dilanjutkan seusai shalat lima waktu. 

Mereka harus percaya setelah melaksanakan shalat akan berdampak pada kesuksesan dan dipermudah oleh Allah SWT. “Jangan tunda-tunda shalat untuk waktu yang panjang,” katanya

Fadhlan mengatakan, mereka yang terlena dengan kehidupan dunia dan isinya tergolong pecinta dunia (hubbuddunya). Mereka terlalu takut risiko hidup miskin. 

Padahal, dengan menempatkan spiritualitas, segala urusan dunia dapat dengan mudah dicapai. "Surga dunia dan akhirat akan mudah digapai,” tuturnya. 

Guna menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat, papar Fadhlan, diperlukan pendidikan keagamaan sejak dini. Bekal keagamaan dibutuhkan bagi umat Muslim yang hidup di metropolitan agar mampu bertahan tanpa meninggalkan ibadah dan akidahnya.

Ketahanan juga akan muncul, tambahnya, bila berada di pusaran orang kaya. Tetap bertahan menjalankan ibadah meski di tengah orang-orang non-Muslim. Dengan memperkokoh spiritualitas, terhindarlah dari godaan materi dan jauh dari cinta dunia yang berlebihan. 

KEBANGKITAN ISLAM

REPUBLIKA.CO.ID, -- Sebagai negara dengan mayoritas Muslim, Indonesia dianggap mampu menjadi basis kebangkitan Islam dunia.
Kondisi Indonesia yang relatif damai, tidak ada perang, ditambah sumber daya insani yang kuat dan berkembang menjadi faktor yang mendukung.

“Indonesia punya keuntungan karena jumlah usia produktif kita 50 persen dari penduduk. Pada 2020, jumlahnya akan mencapai 70 persen. Jadi, semua potensi untuk menjadi negara yang besar ada di negeri kita,” ujar Adi Sasono, mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah era Reformasi.

Adi berharap, akan tumbuh pemimpin yang bisa menegakkan keadilan. Untuk itu, perlu adanya iklim berpendapat yang bebas di Indonesia agar semuanya bisa menjadi mungkin. 

Umat Islam, sambung Adi Sasono, juga perlu memperhatikan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC) karena nantinya tidak akan ada lagi batas di antara negara-negara ASEAN.

Umat Islam Indonesia menyumbang 35 persen dari jumlah penduduk AEC. Ketetapan tersebut bukan hanya akan berdampak pada ekonomi, melainkan juga menjadi tantangan peradaban bagi umat Islam. 

Pemimpin oposisi Malaysia Dato' Seri Anwar Ibrahim juga menilai Indonesia harus lebih berperan sebab budaya dan lingkungan yang jauh lebih tenteram.

Menurutnya, harus ada suara yang jelas di kalangan ulama dan pikiran politik untuk mempertahankan garis sederhana yang mampu mengangkat umat. Ia menambahkan, umat Islam sekarang ini kehilangan arah, buntu, dan sukar menentukan arah tujuannya.

“Saya lebih menekankan Indonesia karena masih mampu melaksanakan wacana dengan bebas, sistemnya masih demokratis, mau bicara apa saja mungkin. Ini saya sampaikan sendiri kepada Presiden SBY supaya lebih memainkan peranan,” ujar mantan wakil perdana menteri Malaysia tersebut.

Saat ditanya bagaimana konkretnya, ia mencontohkan, soal Islamfobia. Media, terutama Barat, kerap menyerang Islam dengan kasar. Ia berharap, umat Islam lebih tenang dan sederhana menghadapinya. 

Dia yakin hak itu bisa dilakukan Indonesia asalkan ada langkah politik yang jelas serta kesediaan golongan muda, sehingga mampu menentukan tata kelola Islam yang baik

Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Iffah Ainur Rochmah menyatakan, para pemuda adalah masa depan bangsa. Merekalah yang akan menentukan apakah negara dan Islam akan semakin maju atau justru hancur berantakan. 

Melongok apa yang terjadi sekarang, kondisi pemuda membuat miris. Setiap harinya ada peningkatan jumlah pemuda yang tersandung masalah narkotika, seks bebas, dan beragam tindakan kriminal lainnya.

Ribuan anak muda terancam dikeluarkan dari sekolahnya dan banyak anak perempuan yang menjadi korban eksploitasi seksual dan fisik. Eksploitasi ini terus berlanjut, hingga ke jenjang institusi pekerjaan. 

“Ini adalah bukti lemahnya sistem yang ada sekarang yang tidak bisa mengakomodasi potensi para pemuda dan gagal memberikan sarana yang tepat untuk menyiapkan mereka sebagai pemimpin bangsa ke depannya nanti,” katanya.

Sistem yang salah ini, menurutnya, adalah kapitalisme yang mengakar hingga merongrong prinsip demokrasi yang menjadi pegangan bangsa. Kapitalisme hanya menghasilkan degradasi moral, penderitaan, dan kemiskinan.

Program pemberdayaan pemuda yang dicanangkan pemerintah pun, menurut Iffah, hasilnya mengarah pada hal yang tidak diharapkan. Seharusnya, bisa mencetak pemuda yang cerdas, jujur, dan menginspirasi. Tapi, yang terjadi sekarang adalah anggaran negara pun melayang pada program yang tidak jelas.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, HTI mengusulkan agar pemerintah membuat progam yang tepat bagi para pemuda. Selain itu, menolak adanya sistem kapitalisme yang membuat negara kini tak bisa menyediakan sarana pendidikan yang memadai.

Baik bagi anak bangsa yang cerdas, tapi kurang menjangkau dalam masalah ekonominya. Terakhir, Islam dijadikan pegangan dalam segala hal, termasuk untuk mencetak generasi yang lebih baik.